number phone 0852 39 300 460

Kamis, 14 Maret 2013

Mr. Alexander Andries Maramis (1897-1977)




Kabinet Presideensial (02-09-1945 s/d 04-11-1945)
Kabinet Amir Sjarifuddin I (03-07-1947 s/d 11-11-1947)
Kabinet Amir Sjarifuddin II (11-11-1947 s/d 29-01-1949)
Kabinet Hatta I (29-01-1949 s/d 04-08-1949)

                Ketika ORI diterbitkan pertama kali, tanda tangan A.A Maramis telah tercantum disana. Beliau di angkat menjadi Menteri Keuangan pada 2 September 1945 menggantikan Dr. Samsi Sastrowidagdo yang hanya menjabat selama 2 minggu. Pada saat itulah bentuk organisasi Kementerian Keuangan baru dibicarakan. Kakak kandung Maria Walanda ini mengalami pendidikan dasarnya di bawah pengawasan para guru Belanda, tapi sebagaian besar usianya diabdikan pada gerakan kemerdekaan bangsanya.
                Riwayat pendidikannya antara lain menamatkan sarjana hokum di negeri Belanda dari tahun 1919 sampai tahun1924. Juga giat di perkumpulan para mahasiswa Indonesia di luar negeri. Karir pengacaranya dirintis dengan membuka kantor pengacara di Semarang, Palembang, Teluk Betung dan Jakarta. Lalu memulai karir politik dengan duduk dalam Madjelis Pertimbangan Poetera (Poesat Tenaga Rakjat).
                Peran-perannya yang menonjol pada masa proklamasi diantaranya adalah duduk dalam PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), anggota KNIP, anggota penyusun Undang-undang Dasar 1945, dan bahkan penyelundupan barang dan candu ke luar negeri untuk membiayai perwakilan RI di luar negeri dan anggaran belanja RI di Yogyakarta.
                Tulisannya Nederland Geen Recht Meer Over Indonesia (Belanda tidak mempunyai hak lagi atas Indonesia) yang berani menyikapkan kedok pemerintahan Belanda di mata dunia dan rakyat Belanda sendiri. Isi tulian tersebut berkisar penyerbuan Jerman atas Belanda yang berarti pelanggaran Undang-undang Dasar Belanda. Dengan kejadian itu putuslah hubungan antara Pemerintahan Kerajaan Belanda dalam pelarian tersebut dengan Hindia Belanda. Yang tinggal hanyalah orang-orang Belanda yang memerintah Hindia Belanda tanpa dasar hokum lagi. Lebih-lebih setelah Hindia Belanda menyerah kepada  tentara Jepang tanggal 9 maret 1942, secara formal dan material kekuasaan Belanda atas Hindia Belanda lenyaplah sudah.
                A.A Maramis pernah di tunjuk oleh presiden Soekarno sebagai anggota pimpinan harian Partai Nasional Indonesia (PNI), partai tunggal pemerintah Indonesia yang ternyata tidak terbentuk.
                Kegiatan perjuangan Menteri Keuangan RI pertama yang dianugerahi bintang Mahaputera dan bintang Gerilya ini tidak terhenti sampai disitu. Ia memimpin pemerintah Indonesia dalam pengasingan ketika Agresi Belanda II, disamping sebagai duta besar RI untuk Fi;ipina, Jerman Barat dan Uni Soviet setelahpengakuan kedaulatan hingga pensiun (1960). Pengabdiannya yang tak kalah penting adalah merumuskan Pancasila dalam ‘Panitia Lima’ yang beranggotakan Dr. Mohammad Hatta, Mr. Sunarjo, Mr. Achmad Subardjo, dan Abdoel Gafur Pringgodigdo.
                Dalam kongres istimewa PNI yang diadakan di Malang pada tahun 1947, A.A Maramis mengemukakan bahwa kalau Linggarjati diterima Indonesia berarti Indonesia tidak memiliki kemerdekaan secara penuh karena persetujuan Linggarjati tersebut hanya mengakui kekuasaan de facto atas Jawa dan Sumatra. Argumentai tersebut hanya diperkuat antara lain oleh Mr. Ali Sastroamidjojo, Mr. Sartono, Sidik Djojosoekarto dan Mr. Wirjono Prodjodikoro.



Silakan kritik dan saran tuk melengkapi artikel ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

sonde apa2 bosong coment sa......